Selasa, 23 Maret 2010

Cerita Nias

By : Faozatulo Zebua
Desa Hilihoru, Kec. Bawolato, Kab. Nias


Kisah Rakyat Pulau Nias

1. Kisah Lawaendröna Manusia Bulan

Lawaendröna resah. Dia ingin terus hidup, tidak mau mati. Dia bertanya kepada semua orang perihal sebuah tempat di mana dia tidak bisa mati. Bahkan dia juga bertanya kepada pohon-pohon, sungai dan mata air. Kalau kematian tidak ada di situ, dia ingin tinggal bersama mereka. Lawaendröna mencari dan bertanya ke seluruh dunia, namun dia tidak menemukan satu tempat pun di mana tidak ada kematian.

Itulah secuplik kisah Lawaendröna dalam catatan kaki artikel “Ein Totengesang von der insel Nias” (Nyanyian Kematian dari pulau Nias) karya Martin Thomsen. Thomsen mengutip narasi kisah Lawaendröna dari kumpulan tulisan Pandita Josefo Dawölö yang dibuat tahun 1930. Tulisan Dawölö yang berjudul “Nidunödunö Zatua Föna ba Danö Niha” berisi baris-baris nyanyian hoho dan legenda dari mitologi dan kosmologi Nias, serta peraturan hukum Nias. Tulisan itu tersebar di seluruh Nias melalui eksemplar-eksemplar yang ditulis-tangan (Thomsen, 1981: 454).

Artikel “Ein Totengesang von der insel Nias” ditulis tahun 1978 dalam bahasa Jerman. Isinya perihal syair hoho yang disebut hoho ba zi mate. Hoho ini dinyanyikan ere hoho saat upacara ritual kematian orang Nias, khususnya kepala suku, untuk menghibur kesedihan. Kisah Lawaendröna ada di dalam teks hoho ini. Thomsen menyajikan syair hoho ba zi mate (gesang für einen toten) yang ditulis Lagemann tahun 1906 dalam buku Realiënboek, buku bacaan berbahasa Nias Utara yang diperuntukkan bagi anak sekolah menengah tingkat lanjut (Thomsen, 1981: 443). Teks hoho ditulis dalam dua bahasa, Nias dan Jerman. Akan halnya tulisan Dawölö dalam catatan kaki dimaksudkan sebagai penjelasan agar teks hoho mudah dipahami pembaca.

Kisah Lawaendröna merupakan sebuah dongeng (folktale) yang berisi perumpamaan untuk melukiskan kematian adalah kodrat yang tidak bisa dihindari manusia. Thomsen (1981: 447) menyajikan bait pembuka cerita yang dinyanyikan seorang ere hoho.

Hadia manö uhalö manömanö
hadia manö uhalö famaedo?
Ha Lawaendröna Baho Dema

ha Lawaendröna Defaoso

Tokoh cerita Lawaendröna Baho Dema, Lawaendröna Defaoso inilah yang kemudian dikisahkan mencari ‘tempat yang tidak ada kematian’. Lawaendröna bertanya, “He ‘ndre zi lö amate niha, he ‘ndre zi lö asao zato?” (Thomsen 1981: 449). Dia sangat berambisi menemukan tempat manusia dapat hidup sepanjang segala abad, di mana manusia punya ‘usia harapan hidup’ tanpa batas. Kalau ada tempat seperti itu, Lawaendröna akan pindah ke sana, karena dia, sebagaimana sajak penyair Chairil Anwar, ‘ingin hidup seribu tahun lagi’.

Kisah Lawaendröna juga terdapat dalam tulisan Petrus Fati’aro Waruwu (Ama Waogö) yang berbentuk syair hoho di buku “Hikaya Nadu” karya (editor) Johannes M. Hämmerle (1995: 604-14). Ama Waogö menulis nama tokoh ceritanya sedikit berbeda, yaitu Laowendröna (Laowendröna Bahodema, Laowendröna Defaoso). Ama Waogö berasal dari So’i'iwa, Lölöfitu Moi, tahun 1982 dan 1993 menulis dua versi hoho ba zi mate yang berisi kisah Laowendröna

2. Manusia Bulan

Karena Lawaendröna tidak menemukan ‘tempat yang tidak ada kematian’ di dunia (bumi) ini, maka dia bertanya kepada bulan. Thomsen (1981: 454) menulis episode terakhir dari kisah Lawaendröna versi Dawölö dalam bahasa Jerman.

… Darum stieg er auch hinauf, um den Mond am Himmelsgewölbe zu fragen. Der Mond sagte: ‘Ich werde nicht sterben. Du darfst bei mir bleiben, doch dann darfst du nicht mehr essen (damit der Mond nicht bechmutzt wird). Damit du es aushalten kannst ohne Essen, musst du deine Eingeweide entfernen. Gib einen tiefen Teller an die Stelle deines Magens und ersetze den Darmknäuel durch Rollen von Seidenstoff.’…

[Karenanya dia naik ke langit untuk bertanya kepada bulan. Bulan berkata, "Aku tidak bisa mati. Kau boleh tinggal bersamaku tetapi kau tidak boleh makan lagi (agar bulan tidak terkena kotorannya). Supaya kau kuat tanpa makanan kau harus menghilangkan organ dalam di perutmu. Kemudian masukkan sebuah mangkuk ke perutmu dan gantilah ususmu dengan gulungan sutra".]

Selanjutnya diceritakan, Lawaendröna menuruti perintah sang bulan dan menyuruh istrinya yang bernama Siwaria (Siwaria Lacha zi Hönö, Siwaria Lacha Zato) melakukan hal yang sama. Namun Siwaria menolak, sehingga Lawaendröna marah dan berkata, “Aku akan mengikat tali ke pusat bumi agar bumi terbalik”. Lawaendröna mengambil sebatang bambu, kemudian merangkai seutas tali yang sangat panjang di dalamnya. Tali itu akan digunakan untuk mengikat pusat bumi. Melihat perbuatan suaminya, Siwaria memasukkan gumpalan sirih-pinang yang sudah dikunyah ke dalam batang bambu itu. Gumpalan sirih-pinang itu menjelma menjadi tikus kecil yang menggerogoti tali, sehingga rangkaian tali Lawaendröna tidak pernah bisa cukup panjang untuk mencapai pusat bumi. Itulah sebabnya maka sampai hari ini bumi belum terbalik dan kiamat (Thomsen, 1981: 454).

Lawaendröna akhirnya menemukan ‘tempat yang tidak ada kematian’, bukan di bumi ini melainkan di bulan. Dia pindah ke sana menjadi ‘manusia bulan’, sementara istrinya tetap tinggal di bumi. Selama manusia masih berdomisili di bumi, kematian merupakan kodrat yang tidak bisa dihindari. Diharapkan, orang-orang yang tengah bersedih dapat merasa lega menerima kematian orang yang mereka cintai dan hormati sebagai kenyataan manusiawi. Inilah aspek pelipur lara yang terkandung dalam kisah Lawaendröna.

Meski konon di bulan manusia dapat hidup selama-lamanya, dalam hoho ba zimate tidak terdapat syair yang eksplisit mengindikasikan bahwa bulan dipahami sebagai Dewi. Di bulan Lawaendröna tidak bersua dengan Siléwé Nazarata yang menurut Suzuki (1959: 15) dan Hadiwijono (1977: 88-89) adalah sang Dewi Bulan orang Nias. Atau, dia tidak bertemu dengan Inada Simadulo Hösi yang menurut Münsterberger (Hämmerle, 1996: 69) adalah sosok Dewi Bulan. Artinya, kolektif (masyarakat) pendukung kisah Lawaendröna, berbeda dengan, kalau memang ada, kolektif pendukung mitos Dewi Bulan.

Kolektif pendukung kisah Lawaendröna memandang bulan menurut logika yang polos saja, yaitu suatu tempat yang lazim dilihat manusia dalam kehidupan nyata sehari-hari, terutama ketika bulan sedang purnama di malam hari. Agaknya, bagi mereka pertemuan dengan sang Dewi Bulan yang menurut para peneliti bernama Siléwé Nazarata atau Inada Simadulo Hösi bagaikan ‘pungguk nan merindukan bulan’. Sejauh ini, belum terdeteksi apakah kolektif pendukung kisah Lawaendröna maupun kalangan peneliti telah sampai pada tafsir yang lebih jauh dan rumit bahwa Lawaendröna adalah Dewa Bulan orang Nias. Semoga pula tidak memicu pertanyaan penelitian ‘mengapa ketika tiba di bulan Neil Armstrong tidak bertemu dengan Lawaendröna?’, karena kisah Lawaendröna hanyalah nyanyian pelipur lara.

Di lain pihak, hampir dapat dipastikan kisah Lawaendröna bukan milik kolektif pendukung upacara famaoso döla. Kolektif pendukung upacara famaoso döla berharap orang mati akan bangkit atau lahir kembali (Harefa, 1939: 96; Suzuki, 1959: 126; Laiya, 1980: 56; Zebua: 2008). Sementara Lawaendröna justru resah menghadapi kematian, dia tidak punya harapan setelah mati dapat hidup kembali, sehingga dia berupaya mengelak dari ancaman kematian. Bila demikian adanya, siapakah kolektif pendukung kisah Lawaendröna ini?

Dalam mitologi Nias ada sebuah cerita asal-mula kematian. Ketika bumi diciptakan, Sirao mengutus Lamonia meresmikan dan memberkati bumi (Mendröfa, 1981: 121-122). Lamonia diharuskan berpuasa, setelah selesai puasa dia memilih memakan buah pisang. Akibatnya setiap manusia pasti akan mati, sebagaimana pisang bila sudah tua akan ditebang (mati). Pisang tidak akan hidup lagi, namun anaknya akan tumbuh. Kematian seperti ini disebut Frazer (2006: 47) sebagai banana type (tipe pisang).

Konteks cerita kematian tipe pisang adalah kalangan penganut molohé adu. Apakah kolektif pendukung kisah Lawaendröna identik dengan penganut molohé adu? Sebuah pertanyaan yang menantang bagi para peneliti yang berminat pada kebudayaan Nias.

3. Warisan Cerita
Pengucapan syair hoho ba zi mate yang berisi kisah Lawaendröna dalam kurun waktu tertentu menjadi bagian integral dari upacara ritual kematian. Artinya, kisah Lawaendröna merupakan tradisi (lisan) yang disebarluaskan dalam masyarakat Nias melalui praktek kebudayaan pada zamannya. Thomsen belum pernah menyaksikan langsung upacara ritual kematian di Nias, namun menurutnya Fries menyaksikan sendiri upacara itu (Thomsen, 1981: 444).

Thomsen bekerja sebagai dokter di pulau Nias dua priode, yaitu tahun 1934-1940 dan 1951-1970 (Thomsen, 1976: I). Sedangkan Eduard Fries bekerja sebagai misionaris di pulau Nias tahun 1904-1920 (Yaahowu: 2007). Bila informasi Thomsen perihal Fries benar adanya, maka dapat dijadikan indikator bahwa upacara ritual kematian masih hidup di tengah masyarakat Nias hingga satu generasi awal abad 20. Dengan demikian, kisah Lawaendröna masih disebarluaskan melalui praktek kebudayaan hingga kurun waktu 1900-1925. Sesudah periode itu, kisah Lawaendröna tersebar melalui cerita para orangtua secara lisan maupun tertulis (misalnya tulisan Dawölö tahun 1930).

Penulis pertama kali, ketika masih duduk di bangku SD, mendengar kisah Lawaendröna, meski tidak selengkap versi Dawölö, dari penuturan nenek penulis pada suatu malam bulan purnama di Medan. Boleh jadi proses yang hampir sama dialami Ama Waogö yang menulis kisah Laowendröna di buku “Hikaya Nadu”. Tulisan Ama Waogö (lahir tahun 1922) didasarkan pada penuturan kakek beliau yang adalah seorang ere sebua (Hämmerle, 1995: 425, 428). Sebagai ere sebua tentunya kakek beliau adalah seorang pelaku upacara ritual kematian dalam masyarakat tradisional Nias.

Ama Waogö, nenek penulis, apalagi penulis sendiri, bukanlah pelaku upacara tersebut, namun bersama dengan orang Nias zaman sekarang telah diwarisi kisah Lawaendröna ini, untuk kemudian diteruskan kepada generasi selanjutnya.

4. Cerita Rakyat Sumatera Utara : Legenda Asal-Usul Orang Nias

Asal usul orang Nias seringkali menjadi bahan polemik diantara orang-orang Nias, karena hingga saat ini terlalu benyak versi mengenai ASAL USUL ORANG NIAS, dan belum ada satupun diantara pendapat para ahli / para penulis yang dapat dijadikan sebagai suatu yang mutlak kebenarannya yang dapat diterima dan dipercayai oleh orang-orang Nias. Oleh karena itu saya merasa terpanggil untuk menyajikan tulisan ini, yang merupakan rangkuman hasil pengalaman saya dari tua-tua Adat Nias, sebagai pemicu semangat orang-orang Nias agar menelusuri terus tentang asal usul kita.

Menurut Legenda yang sangat dipercayai oleh sebagian masyarakat Nias terutama yang tinggal di pedesaan, bahwa asal usul orang Nias adalah diturunkan dari langit (NIDADA MOROI BA LANGI). Hal ini dilatarbelangi oleh keterbatasan pemahaman / pengetahuan mereka mengenai ilmu pengetahuan, sehingga beranggapan bahwa didunia ini hanya ada satu daratan yaitu hanya daratan Pulau Nias atau TANÖ NIHA, itulah sebabnya orang Nias menyebut dirinya sebagai ONO NIHA.

Mengingat sebagian istilah dalam bahasa Niasnya kurang tepat apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, maka saya menuliskannya dalam Bahasa Daerah Nias, dan pada penekanan-penekanan tertentu saya juga akan menuliskan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Dan setiap tahapan tertentu saya akan memetik suatu makna yang terkandung didalamnnya, yang dapat menjadi bahan renungan / pembelajaran bagi kita.

5. CERITA SELENGKAPNYA ADALAH SEBAGAI BERIKUT

Ketika Raja Sirao sudah mulai tua, maka ia pusing tujuh keliling, karena ke 9 orang anak-anaknya semuanya ingin menjadi pengganti Sirao sebagai Raja.

Ke sembilan anak Sirao adalah sebagai berikut :
1. Tuada Bawuadanỡ
2. Tua Zangarỡfa
3. Tua Bela
4. Tua Simanga Buaweto Alitỡ
5. Tua Samadu Sonamo Dalỡ
6. Hia Walangi Adu
7. Gỡzỡ Hela-hela Danỡ
8. Daeli Sanau Talinga
9. Luo Mewỡna

Lalu Sirao memanggil / mengumpulkan ke-9 orang anak-anaknya, mengatakan bahwa : Siapa yang akan menggantikan posisinya sebagai raja, dia akan mempunyai tanda-tanda, yaitu “ Barang Siapa diantara ke-9 anak-anaknya, yang dapat menari seperti burung rajawali atau seperti burung elang diatas ujung tombak khusus sang Raja, maka dialah yang akan menggantikan Sirao sebagai Raja.

Makna / pelajaran yang dapat dipetik :

Nenek moyang orang Nias, sudah sejak dahulu menganggap dirinyaØ sebagai anak raja, sehingga sangat tersinggung dan marah apabila ada yang mengatakan orang Nias ada yang menjadi budak, karena prinsipnya adalah : “ FAOMA ITA ONO NAMADA”, artinya kita adalah sama-sama berasal dari keturunan orang terhormat. Hal ini membuat orang Nias selalu menjaga sikap / perilakunya dilingkungan dimana ia berada. Namun hal ini pula yang membuat kita kadang-kadang terkesan angkuh / sombong.

Tuan Bawuadanỡ putra Raja Sirao yang ke-1, menjawab bahwa karena ia putra yang pertama, maka dialah yang berhak menjadi raja menggantikan Sirao ayahnya setelah meninggal kelak. Lalu Sirao menyuruh Bawuadanỡ, menari diatas ujung tombak dan ternyata ia gagal, dan karena itu maka Bawuadanỡ diturunkan ke bumi yang luas, dan jatuh ditengah-tengah pusaran bumi, sehingga ia menjadi PENOPANG BUMI.

Itulah sebabnya dalam kepercayaan orang tua-tua dulu, melarang seseorang untuk mengucapkan Sumpah Palsu dengan menyebutkan nama Tuada Bawua Danỡ, sebab ia akan marah kalau seseorang melakukan sumpah palsu dengan menyebut namanya, sehingga orang tersebut dalam waktu yang tidak terlalu lama pasti akan mendapatkan hukuman yaitu Kematian.

Makna / pelajaran yang dapat dipetik :

Nenek moyang orang Nias, sudah sejak dahulu mengenal dan mengutamakanØ kejujuran (tidak berdusta atau berkata bohong), sebab kalau tidak jujur maka akan mendapatkan hukuman yaitu Kematian.

Setelah Tuan Bawuadanỡ diturunkan ke bumi, maka putra Raja Sirao yang ke-2 yaitu Tuan Zangarỡfa melompat sambil mengatakan bahwa karena ia putra ke-2, maka dialah yang berhak menjadi raja menggantikan ayahnya Sirao, apabila Sirao meninggal dunia kelak. Dan iapun gagal, sama seperti abangnya Bawuadanỡ, dan karena itu iapun diturunkan ke bumi yang luas dan jatuh ditengah-tengan air sehingga ia menjadi PENGUASA AIR.

Itulah sebabnya dalam kepecayaan orang tua-tua dulu, dilarang membuang air besar di sungai soalnya Tua Zangarỡfa akan marah karena sumber airnya kotor. Akibatnya dapat menyebabkan kecelakaan / hanyut (Ahani) kalau menyeberangi sungai saat banjir (Mangỡtỡ Molỡ) atau tidak mendapatkan ikan (Lỡ ahulu) kalau hendak memancing atau menjala atau mencari ikan di Sungai.

Makna / pelajaran yang dapat dipetik :

Nenek moyang orang Nias, sudah sejak dahulu mengenal dan mengutamakanØ kebersihan, sebab kalau tidak maka akan mendapatkan hukuman yaitu Hidup Tidak beruntung (sial).

Setelah Tuan Zangarỡfa diturunkan ke bumi, maka putra Raja Sirao yang ke-3 yaitu Tuan Bela, mencoba namun iapun gagal, sama seperti abangnya Tuan Zangarỡfa dan karena itu iapun diturunkan ke bumi yang luas dan jatuh diatas pohon yang besar sehingga ia menjadi PENGUASA POHON.

Itulah sebabnya dalam kepecayaan orang tua-tua dulu, Dilarang keluar rumah kalau sedang hujan campur panas (Teu Sino) dan setelah teu sino biasanya akan dilanjutkan dengan angina kencang dan hujan lebat, sebab Tuada Bela sedang marah karena hutannya banyak yang dirusak, sehingga ia kekurangan tempat berteduh. Orang yang keluar rumah saat itu bisa-bisa sakit atau Tesafo, dan akibat hujan deras beserta angin kencang maka menyebabkan pepohonan bertumbangan dan banjir.

Makna / pelajaran yang dapat dipetik :Nenek moyang orang Nias, sudah sejak dahulu mengenal masalahØ kesehatan dan menjaga kelestarian lingkungan sebab kalau tidak maka akan mendapatkan hukuman yaitu Penyakit dan Bencana Alam.

Setelah Tuan Bela diturunkan ke bumi, maka putra Raja Sirao yang ke-4 yaitu Tuan Simanga Bua Weto Alitỡ, mencoba namun iapun gagal, sama seperti abangnya Tuan Bela dan karena itu iapun diturunkan ke bumi yang luas dan jatuh diatas batu yang besar sehingga ia menjadi GURU BLACK MAGIC di Nias.

Tuada Simanga Bua Weto Alitỡ dipercayai sebagai kakeknya Laowỡmaru, yang punya cita-cita menghubungkan dataran Nias dengan Dataran Sumatera namun tidak sempat karena dia keburu meninggal.

Makna / pelajaran yang dapat dipetik :

Nenek moyang orang Nias, sudah sejak dahulu sudah dapat membedakanØ mana yang baik dan mana yang jahat, dan mengajarkannya kepada anak-anaknya sebab kalau berbuat jahat maka akan mendapatkan hukuman yaitu : Umur tidak panjang dan cita-cita tidak pernah tercapai.

Setelah Tuan Simanga Bua Weto Alitỡ diturunkan ke bumi, maka putra Raja Sirao yang ke-5 yaitu Tuan Samadu Sonamo Dalỡ, mencoba namun iapun gagal, sama seperti abangnya Tuan Simanga Bua Weto Alitỡ dan karena itu iapun diturunkan ke bumi yang luas dan jatuh diatas puncak Gunung Gui-gui (yang merupakan salah satu gunung tertingggi di Nias) sehingga ia menjadi GURU PARA DUKUN DAN TUKANG RAMAL di Nias.

Tuan Samadu Sonamo Dalỡ, dipercayai sebagai gurunya para Dukun dan Tukang Ramal dapat menyembuhkan orang sakit karena bala/guna-guna dan dapat meramal nasib seseorang

Makna / pelajaran yang dapat dipetik :

Nenek moyang orang Nias, sudah sejak dahulu mengenal cara-caraØ pengobatan tradisional dan cara meramal nasib, tapi harus digunakan untuk menolong sesama bukan untuk menyakiti orang lain.


Setelah Tuan Samadu Sonamo Dalỡ diturunkan ke bumi, maka putra Raja Sirao yang ke-6 yaitu Tuan Hia Walangi Adu, Tuan Hia Walangi Luo, mencoba namun iapun gagal, sama seperti abangnya Tuan Samadu Sonamo Dalỡ dan karena itu iapun diturunkan ke bumi yang luas dan jatuh daerah Gomo.Dan setelah Tuan Hia diturunkan ke bumi, maka bumi Nias di bagian Selatan menjadi miring.

Setelah Tuan Hia Walangi Adu, Tuan Hia Walangi Luo diturunkan ke bumi, maka putra Raja Sirao yang ke-7 yaitu Tuan Gỡzỡ Hela-hela Danỡ, mencoba namun iapun gagal, sama seperti abangnya Tuan Hia Walangi Adu, Tuan Hia Walangi Luo dan karena itu iapun diturunkan ke bumi yang luas dan jatuh daerah bagian Utara Pulau Nias. Dan setelah Tuan Gỡzỡ Hela-hela Danỡ diturunkan ke bumi, maka bumi Nias melengkung.

Setelah Tuan Gỡzỡ Hela-hela Danỡ diturunkan ke bumi, maka putra Raja Sirao yang ke-8 yaitu Tuan Daeli Sanau Talinga, Tuan Daeli Sanau Tumbo, mencoba namun iapun gagal, sama seperti abangnya Tuan Gỡzỡ Hela-hela Danỡ, dan karena itu iapun diturunkan ke bumi yang luas dan jatuh di Tỡla Maera Talu Nidanoi. Dan oleh karena Tuan Daeli merupakan anak kesayangan dari Tuan Sirao, maka ketika Tuan Daeli diturunkan ke bumi Tanỡ Niha bersamanya diikutsertakan Seperangkat Perhiasan Emas dan Perak, Peralatan Tombak dan Pedang serta berbagai Alat Timbangan. Dan setelah Tuan Daeli diturunkan ke bumi, maka bumi Nias menjadi rata dan tidak lagi melengkung.


Pada akhirnya satu-satunya Keturunan Tuan Sirao yang tinggal diatas langit yaitu Tuan Luo Mewỡna, yang dipercayai sebagai penguasa Matahari dan Bulan, sehingga kalau hujan turun berarti Tuan Luo Mewỡna sedang bersedih hati, dan kalau bulan purnama yang cerah berarti Tuan Luo Mewỡna sedang senang hati / bergembira.

6. Asal Usul Kata NIAS

Bukan hal baru lagi kalau tata bahasa atau kosakata masyarakat Nias pada "umumnya" jika menggunakan bahasa nasional seringkali 'berhemat' dalam pengucapannya. Alias tidak ada penutup T_T. Dan seringkali menambahkan kosakata ajaib yang menjadi ciri khas masyarakat gunung sitoli.... (dsk)Misalnya : Tolong kawa.. Jangan bale.. Kamu Wo'i... Tidak Mau aku sa...Ia Ba..

^_^

hem.. banyak diantara Anak Nias yang sudah pintar merasa malu melihat kenyataan ini. Tapi secara pribadi saya bangga karena itu merupakan keunikan tersendiri dari masyarakat Nias.He.he.. (Pernah dengar orang Papua/Tobelo bicara???)

Kenapa Bisa terjadi hal seperti ini???

Kalau ada yang bilang karena bodoh/tidak sekolah/kurang pemahaman mungkin juga... tapi sebenarnya karena pengaruh bahasa ibu(li nono niha) itulah yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Seperti kita ketahui kosa kata bahasa daerah nias tiak pernah ada penutup dalam arti selalu diakhiri oleh huruf Vokal bukan konsonan... dan hal ini lah yang memperngaruhi bahasa indonesia sehari-hari..


Tapi Anehnya sekalipun li nononiha(Bahasa Nias) tidak diakhiri dengan konsonan.. Tapi Mengapa Tano Niha dikenal dengan Sebutan "NIAS"

Kata NIAS jelas-jelas tidak mempunyai arti dalam bahasa daerah, dan juga bukan berasal dari kosakata bahasa kita. Dan yang lebih tidak lazim, kata NIAS diakhiri dengan huruf konsonan bukan vokal yang sudah menjadi ciri kesusastraan bahasa nono niha.

Nah.... Ada Pendapat dari teman-teman???

Memamng ada salah satu Versi yang ada dalam situs ini. Katanya berasal dari kata 'Niha Si.." Tapi Kalau saya pernah dengar cerita tentang asal usul kata Nias dari Guru bahasa Nias saya waktu SD... Saya tidak tau Kebenarannya...

Tapi Begini ceritanya...


----- Dahulu Kala..._ ^_^-----

Ketika Nias masih primitif.. belum mengenal budaya dan masyarakat luas..
Datanglah Penginjil dari badan Zending dalam suatu Misi ke Pulau Nias
Ketika mereka sampai di pelabuhan/dermaga pada waktu itu mereka melihat suat Pulau yang sangat Indah dengan penduduk yang cantik-cantik lain dari penduduk di seberang lautan(he..he..) Dalam perjalanan mereka karena sulitnya komunikasi dan juga waktu mereka yang tidak lama... maka mereka memberi Nama Pulau Nias(untuk mengingat tano niha)


Nah lucunya cerita guru saya ini.. kata Nias itu muncul di hati para misionaris itu bukan karena kebetulan.. Tapi berawal dari kedatangan para misionaris di pelabuhan tadi mereka menanyakan kepada penduduk setempat apa nama pulau ini... tapi karena orang2 nias tidak mengerti apa pertanyaan misionaris itu malah mereka saling berteriak-teriak dan terkagum-kagum karena baru pertama melihat orang barat yang putih dan tinggi-tinggi. Mereka malah teriak " Iza NIASafusi.. iza NIASafusi...!!!"
Nah Karena tadi orang barat tersebut menanyakan nama pulau dan meeka mendapat sahutan " Iza NIASafusi.. iza NIASafusi...!!! yang dalam pendegaran mereka 'NIAS'.. Jadilah mereka mencatat di nama Pualu kita tercinta dengan nama PULAU NIAS.... Sampai ketika mereka kembali dan menceritakan tentang Pulau yang Indah Bernama Pulau Nias...


Tidak ada komentar: